Tugas UAS Mahasiswa UBM ‘Cari’ Darah

Tugas UAS Mahasiswa UBM ‘Cari’ Darah

Tugas UAS Mahasiswa UBM ‘Cari’ Darah

 Untuk menyelesaikan  tugas Ujian Aakhir Semester (UAS), mahasiswa jurusan Public Relation kelas karyawan Universitas mercubuana  (UBM) menghelat aksi Donor. Kegiatan yang dilaksanakan di halaman Kampus tersebut berlangsung dari jam 09.00 WIB hingga 15.00 WIB dengan tema acara Darahku Bukti Cinta Sesama.

“Awalnya kita memiliki kesulitan dimana panitianya adalah mahasiswa karyawan yang memiliki pekerjaan di luar kuliah sehingga sulit sekali mendapatkan waktu yang pas untuk bertemu.  Acara ini untuk persayaran kami lulus di mata kuliah pengelolaan program PR (Public Relation), ” ujar salah seorang panitia, Angga Pratama.

Selain Donor Darah terdapat juga acara seminar singkat dengan pembicara Dr.  Eva

Diniwahyuningtya selaku Dokter Fungsional di UTD PMI Kabupaten Bekasi.  Dalam seminar ini Dr. Eva memberitahu pengetahuan tentang donor darah.

“Syarat dari mendonor darah harus berumur 17-60 tahun.  Pada usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat izin tertulis dari orangtua. Berat badan minimum 45kg.Temperatur tubuh: 36,6°C-37,5°C yang diukur secara oral.Tekanan darah baik Sistole = 110-160mm Hg dan Diastole = 70-100mm Hg. Tidak boleh untuk wanita yang sedang menstruasi dan hamil, ” ujarnya saat mengisi seminar dengan tema Darahku Bukti Cinta Sesama.

Eva mengatakan saat ini Bekasi sedang kekurangan banyak darah, terutama untuk golongan darah AB.

Untuk itu dianjurkan agar 3 bulan sekali melakukan donor darah.  Eva juga mengatakan kenapa kantong darah yang didapatkan oleh PMI itu gratis tapi justru dijual mahal oleh PMI?  Hal itu dikarenakan terdapat biaya BPD atau biaya pemrosesan dari darah itu sendiri.  Karena darah tidak bisa langsung disalurkan dari pendonor ke penerima.

“Jadi darah yang telah di donor ini kita proses dilaboratorium. Ada tahapan yang harus dilakukan selama enam jam sebelum darah bisa diberikan kepada penerima harus melalui tahap uji kelayakan bebas dari penyakit seperti HIV, Malaria, dan Hepatitis. Untuk itu kenapa pengambilan darah dari pendonor memang tidak bisa langsung diberikan kepada penerima, ” ujarnya.

Eva  menambahkan,  mendonor darah juga tidak bisa asal asalan harus dijaga kualitasnya

.  Untuk itu kenapa harga satu kantong darah cukup mahal berkisar Rp350.000,-. Yang harus diluruskan disini adalah, setiap biaya yang dikeluarkan ketika membutuhkan darah adalah untuk biaya BPD bukannya harga si darah itu sendiri.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/

About The Author